Monday, 1 June 2009
Hernia Incacerata -- Answer to VETA Question..
Saturday, 21 March 2009
Aneurysm !!
What Is an Aneurysm?
An aneurysm (AN-u-rism) is an abnormal bulge or “ballooning” in the wall of an artery. Arteries are blood vessels that carry oxygen-rich blood from the heart to other parts of the body. An aneurysm that grows and becomes large enough can burst, causing dangerous, often fatal, bleeding inside the body.
Most aneurysms occur in the aorta. The aorta is the main artery that carries blood from the heart to the rest of the body. The aorta comes out from the left ventricle (VEN-trih-kul) of the heart and travels through the chest and abdomen. An aneurysm that occurs in the aorta in the chest is called a thoracic (tho-RAS-ik) aortic aneurysm. An aneurysm that occurs in the aorta in the abdomen is called an abdominal aortic aneurysm.
Aneurysms also can occur in arteries in the brain, heart, intestine, neck, spleen, back of the knees and thighs, and in other parts of the body. If an aneurysm in the brain bursts, it causes a stroke.
About 15,000 Americans die each year from ruptured aortic aneurysms. Ruptured aortic aneurysm is the 10th leading cause of death in men over age 50 in the United States.
Many cases of ruptured aneurysm can be prevented with early diagnosis and medical treatment. Because aneurysms can develop and become large before causing any symptoms, it is important to look for them in people who are at the highest risk. Experts recommend that men who are 65 to 75 years old and have ever smoked (at least 100 cigarettes in their lifetime) should be checked for abdominal aortic aneurysms.
When found in time, aneurysms can usually be treated successfully with medicines or surgery. If an aortic aneurysm is found, the doctor may prescribe medicine to reduce the heart rate and blood pressure. This can reduce the risk of rupture.
Large aortic aneurysms, if found in time, can often be repaired with surgery to replace the diseased portion of the aorta. The outlook is usually excellent.
Tuesday, 24 February 2009
Hernia Scrotalis
Secara umum hernia merupakan penonjolan (protrusi) sebagian atau seluruh viscus dari posisi normalnya melalui suatu celah (defek atau bukaan) dimana organ dalam itu berada.
Hernia eksternal merupakan protrusi abnormal organ intra-abdominal melewati defek fascia pada dinding abdominal. Hernia yang sering terjadi adalah inguinal, femoral, umbilical, dan paraumbilikal.
• Obliterasi inkomplit dari umbilicus yang mnyebabkan terjadinya hernia umbilical
• Kelemahan otot akibat obesitas dengan infiltrasi lemak, kehamilan, atau proses ketuaan normal
• Konstipasi
• Obstruksi leher vesika atau uretral
• Parturisi
• Muntah
• Penggunaan otot berlebihan
• Keganasan abdomen dengan ascites
Macam-macam hernia:
Merupakan hernia yang dapat direposisi tanpa operasi
Adalah hernia yang tidak dapat kembali ke cavum abdominale kecuali dengan bantuan operasi
Merupakan hernia ireponibilis yang sudah disertai tanda-tanda ileus mekanis (usus terjepit sehingga aliran makanan tidak bisa lewat)
Merupakan hernia yang arah penonjolannya dapat dilihat ke arah luar
Klasifikasinya adalah:
• Hernia inguinalis
• Hernia femoralis
• Hernia umbilical dan para-umbilikal
• Hernia epigastrika
• Hernia insisional
• Hernia obturator
• Hernia spigelian
• Hernia lumbar
• Hernia gluteal
• Hernia skiatik
• Hernia perineal
2. Hernia internal
Jika isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya masuk ke cavum thorax, bursa omentalis, atau masuk ke dalam cavum abdomen
Pada cavum abdominal:
• Hernia epiploica winslowi
• Hernia bursa omentalis
• Hernia mesenterika
• Hernia retroperitonealis
• Hernia diafragmatica traumatic
• Hernia diafragmatica non-traumatica
HERNIA INGUINALIS
Hernia inguinalis merupakan hernia yang paling sering terjadi. Jenis-jenis hernia inguinalis:
1. Hernia inguinalis indirek atau lateralis
2. Hernia inguinalis direk atau medialis
• Peritoneum
• Lemak ekstraperitoneal
• Fasia spermatika interna (berasal dari fasia transversalis pada cincin interna)
• Otot dan fasia kremaster (berasal dai m. obliqus interna dan m. transersum abdominis serta jaringan areolar antara kedua otot tersebut)
• Fasia spermatika eksterna
• Fasia superfisialis dan kulit
Patogenesis
Hernia indirek bersifat congenital dan disebabkan oleh kegagalan penutupan prosesus vaginalis ( kantong hernia) sewaktu turun ke dalam skrotum. Kantong yang dihasilkan bisa meluas sepanjang kanalis inguinalis; jika meluas kedalam skrotum maka disebut hernia lengkap. Karena processus vaginalis terletak didalam funikulus spermatikus, maka prosessus ini dikelilingi oleh muskulus kremater dan dibentuk oleh pleksus venosus pampiniformis, duktus spermatikus dan arteria spermatika. Lubang interna ke dalam kavitas peritonealis selalu lateral terhadap arteria epigastrica profunda dngan adanya hernia inguinalis indirek, sedangkan lubang interna medial terhadap pembuluh darah ini bila hernianya direk.
Bila prosessus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi), akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena merupakan lokkus minoris resistensie, maka pada keadaan yang dapat menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat , kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita.
Hernia inguinalis sering timbul pada pria dan lebih sering pada sisi kanan dibandingkan sisi kiri. Peningkatan tekanan intra abdomen akibat berbagai sebab, yang mencakup pengejanan yang mendadak, gerak badan yang terlalu aktif, obesitas, batuk menahun, asites, mengejan pada waktu buang air besar, kehamilan dan adanya massa abdomen yang besar, mempredisposisi pasienke perkembangan hernia. Peningkatan tekanan intra abdomen ini akan mendorong bagian dari usus dan lambung ke dalam kanalis ini, atau bahkan kedalam scrotum.
HERNIA INGUINALIS
(Ilmu Bedah – Handbook of Surgery)
b. Pada anak laki yang lebih besar dan pria, maka harus dilakukan penanganan sebagai berikut. Skrotum dimasuki jari telunjuk dan jari ditempatkan pada atau melalui annulus inguinalis eksterna. Instrusikan pada pasien untuk menekan (mengedan) seakan-akan hendak buang air besar. Ini akan meningkatkan tekanan intraabdominal. Kantung hernia merupakan suatu struktur bagaikan balon yang menekan jari secara langsung atau dari sisi lateral. Annulus eksterna yang membesar bukan hernia, meskipun kemungkinan hernia yang menyebabkan pembesaran itu dan hernia harus dicari dengan cermat kalau annulus cukup besar sehingga jari telunjuk dapat masuk. Hernia inguinalis paling mudah diperagakan kalau pasien berdiri tetapi periksalah pasien baik dalam posisi berdiri maupun dalam posisi telentang.
c. Indirek vs direk.
Hernia indirek merupakan suatu massa elips yang berjalan turun dan miring ke dalam kanal inguinalis. Mungkin akan masuk ke dalam skrotum. Massa ini menekan sisi lateral jari yang dipakai untuk memeriksa. Dengan menekan bagian atas annulus interna dengan satu tangan maka dapat dicegah jangan sampai hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis.
Hernia direk adalah suatu massa sferis, yang jarang turun sampai ke skrotum. Massa itu menekan jari yang memeriksa langsung dari sebelah depan. Dengan menekan annulus interna dengan tangan kita tak dapat mengurangi hernia tersebut.
(Sabiston – Buku Ajar Bedah)
HERNIA
(Kapita Selekta Kedokteran)
Umumnya pasien pengatakan turun berok, burut, atau kelingsir, atau mengatakan adanya benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bias mengecil atau menghilang pada waktu tidur, dan bila menangis, mengejan, atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali. Bila telah terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri.
Pada pasien terlihat adanya massa bundar pada annulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi irreponibilis.
• Memakai ikat pinggang khusus yang disebut truss (untuk menyokong hernia dan menjaganya dari menonjol)
• Menghindari aktivitas yang menyebabkan peregangan abdomen (abdominal strain)
• Herniorrhapy
Graves Disease
Latar belakang
Graves disease berasal dari nama Robert J. Graves, MD, circa tahun1830, adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan hipertiroidisem (produksi berlebihan dari kelenjar tiroid) yang ditemukan dalam sirkulasi darah. Graves disease lazim juga disebut penyakit Basedow. Struma adalah istilah lain untuk pembesaran kelenjar gondok. Gondok atau goites adalah suatu pembengkakan atau pembesaran kelanjar tiroid yang abnormal yang penyebabnya bisa bermacam-macam. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada orang muda usia 20 –40 tahun terutama wanita, tetapi penyakit ini dapat terjadi pada segala umur . Kelenjar tiroid dalam keadaan normal tidak tampak, merupakan suatu kelanjar yang terletak di leher bagian depan, di bawah jakun. Kelenjar tiroid ini berfungsi untuk memproduksi hormon tiroid yang berfungsi untuk mengontrol metabolisme tubuh sehingga tercapai pertumbuhan dan perkembangan yang normal.
Penyebab
Penyebabnya tidak diketahui. Karenai ini merupakan penyakit autoimun yaitu saat tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang komponen spesifik dari jaringan itu sendiri, maka penyakit ini dapat timbul tiba-tiba. Tidak diketahui mekanismenya secara pasti, kebanyakan dijumpai pada wanita. Reaksi silang tubuh terhadap penyakit virus mungkin merupakan salah satu penyebabnya ( mekanisme ini sama seperti postulat terjadinya diabetes mellitus tipe I).Obat-obatan tertentu yang digunakan untuk menekan produksi hormon kelenjar tiroid dan Kurang yodium dalam diet dan air minum yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama mungkin dapat menyebabkan penyakit ini. Walaupun etiologi penyakit Graves tidak diketahui, tampaknya terdapat peran antibody terhadap reseptor TSH, yang menyebabkan peningkatan produksi tiroid. Penyakit ini ditandai dengan peninggian penyerapan yodium radioaktif oleh kelenjar tiroid.
Patofisiologi
Graves disease merupakan salah satu contoh dari gangguan autoimun hipersensitif tipe II. Sebagian besar gambaran klinisnya disebabkan karena produksi autoantibodi yang berikatan dengan reseptor TSH, dimana tampak pada sel folikuler tiroid ( sel yang memproduksi tiroid). Antibodi mengaktifasi sel tiroid sama seperti TSH yang menyebabkan peningkatan produksi dari hormon tiroid. Opthalmopathy infiltrat ( gangguan mata karena tiroid) sering terjadi yang tampak pada ekspresi reseptor TSH pada jaringan retroorbital. Penyebab peningkatan produksi dari antibodi tidak diketahui. Infeksi virus mungkin merangsang antibodi, dimana bereaksi silang dengan reseptor TSH manusia. Ini tampak sebagai faktor predisposisi genetik dari Graves disease, sebagian besar orang lebih banyak terkena Graves disease dengan aktivitas antibodi dari reseptor TSH yang bersifat genetik.Yang berperan adalah HLA DR (terutama DR3).
Gambaran Klinis
Gejala dan tanda peningkatan metabolisme di segala sistem tubuh, mungkin terlihat jelas. Peningkatan metabolisme menyebabkan peningkatan kalori, karena itu masukkan kalori umumnya tidak mencukupi kebutuhan sehingga berat badan menurun. Peningkatan metabolisme pada sistem kardiovaskuler terlihat dalam bentuk peningkatan sirkulasi darah dengan penambahan curah jantung sampai 2-3 kali normal, juga dalam istirahat. Irama nadi naik dan tekanan denyut bertambah sehingga menjadi pulses seler dan penderita mengalami takikardi dan palpitasi. Beban miokard, dan rangsangan persarafannya dapat meningkatkan kekacauan irama jantung berupa fibrilasi atrium
Diagnosis
Diagnosis dapat dibuat berdasarkan dari tanda dan gejala yang ada, dan dari hasil laboratorium berupa kadar dari hormon tiroid (tiroksin/ T4, triyodotironin/ T3) dan kadar dari tiroid stimulating hormone (TSH). Free T4 dan free T3 yang tinggi merupakan suatu petanda, sambil TSH memberikan negative feedback. Peningkatan ikatan protein iodium mungkin dapat terdeteksi. Struma yang besar kadang terlihat pada foto rontgen. Tiroid stimulating antibodi mungkin dapat terlihat pada pemeriksaan serologi.
Penatalaksanaan
Pengobatan terhadap Graves disease termasuk penggunaan obat-obat anti tiroid (OAT), yodium radioaktif dan tiroidektomi (eksisi pembedahan dari kelenjar tiroid). Pengobatan hipertiroid pada graves disease adalah dengan obat-obatan seperti methimazole atau propylthiouracil (PTU), yang akan menghambat produksi dari hormon tiroid, atau juga dengan yodium radioaktif . Pembedahan merupakan salah satu pilihan pengobatan, sebelum pembedahan pasien diobati dengan methimazole atau propylthiouracil (PTU). Beberapa ahli memberikan terapi kombinasi tiroksin dengan OAT dosis tinggi untuk menghambat produksi hormon tiroid namun pasien tetap dipertahankan eutiroid dengan pemberian tiroksin. Penambahan tiroksin selama terapi dengan OAT juga akan menurunkan produksi antibodi terhadap reseptor TSH dan frekuensi kambuhnya hipertiroid.
Tiroidektomi subtotal sangat efektif untuk menanggulangi hipertiroid. Indikasi operasi adalah :
2. Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan OAT dosis tinggi.
3. Alergi terhadap OAT, pasien tidak bisa menerima iodium radioaktif.
4. Adenoma toksik atau struma multinodular toksik.
5. Pada penyakit grave yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC, Jakarta, 1996. Hal 932 – 4.
2. Noer S, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. FKUI, Jakarta, 1996. Hal 766 – 72
3. Leksana, Mirzanie H. Chirurgica. Tosca Enterprise. Yogyakarta, 2005. Hal VIII.1 – 5
4. http://www.eMedicine.com
5. http://www.wikepedia.com
6. http://www.konsultasigizi.com
7. http://www.GraveDisease.com
Otitis Media
Etiologi
Keadaan yang menyebabkan disfungsi tuba Eustachius atau tuba katar antara lain adalah tuba terbuka abnormal, myoklonus palatal, palatoskisis, dan obstruksi tuba.
Obstruksi tuba umumnya terjadi karena otitis media, baik dalam bentuk barotrauma, otitis media supuratif, maupun otitis media non supuratif. Salah satu bentuk otitis media non-supuratif adalah otitis media serosa. Keadaan ini sering ditemukan pada rhinitis alergika dan pada orang yang sering pilek.
Otitis media serosa akut adalah keadaan terbentuknya sekret di telinga tengah secara tiba-tiba yang disebabkan oleh gangguan fungsi tuba. Keadaan akut ini dapat disebabkan antara lain oleh:
2) virus, terbentuknya cairan di telinga tengah yang berhubungan dengan ISPA
3) alergi, berhubungan dengan alergi pada saluran pernafasan atas
4) idiopatik
Gejala dan tanda yang didapatkan dari pasien yang mengalami OMS yang terutama adalah telinga terasa penuh dan ada kongesti. Pada saat pasien membuang ingus keras-keras, dapat merasakan suara seperti gelembung-gelembung yang pecah.
Selain itu pasien juga dapat mengeluh rasa terseumbat pada telinga atau suara sendiri terdengar lebih nyaring atau berbeda pada telinga yang sakit (diplacusis binauralis). Kadang-kadang terasa seperti ada cairan yang bergerak dalam telinga pada saat posisi kepala berubah. Rasa sedikit nyeri dapat terjadi pada awal tuba terganggu, karena tekanan negatif ada telinga tengah (misalnya barotrauma), tetapi setelah sekret terbentuk tekanan negatif ini pelan-pelan hilang. Rasa nyeri tidak pernah ada bila penyebab timbulnya sekret adalah virus atau alergi. Tinnitus, vertigo, atau pusing kadang2 ada dalam bentuk ringan.
Tinnitus, atau suara telinga berdenging, berdengung, atau berdenting adalah suatu gejala yang sangat subjektif pada pasien. Kadang-kadang hanya menjadi sumber gangguan kecil bagi pasien, tetapi pada yang lainnya dapat mengganggu aktifitas. Etiologi dari tinnitus dapat berupa cerumen prop, otosklerosis, otitis media, atau keadaan ototoksik.
Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan retraksi dari membran timpani. Motilitas membran timpani juga berkurang. Kadang-kadang pada pemeriksaan dengan otoskop, terlihat tampilan garis batas air atau gelembung udara di sebelah medial membran.
Untuk pasien-pasien dengan gangguan fungsi tuba, dapat disuruh untuk melakukan perasat Valsalva. Perasat ini dilakukan dengan cara menutup kedua hidung, lalu meniup keras-keras dengan mulut tertutup. Apabila patensi kedua tuba bagus, maka dengan perasat Valsalva akan terbuka (kadang-kadang disertai dengan bunyi “pop”). Pasien yang OMS-nya telah disertai dengan gangguan tuba apabila melakukan perasat ini tidak dapat mendengar atau merasakan bunyi terbukanya tuba. Biasanya patensi tuba terganggu atau tuba tersebut tersumbat di sekitar 2/3 pars kartilagineus medial.
Tes Pendengaran Dengan Garputala
Pada pasien dengan otitis media serosa akut pengobatan dapat secara medikamentosa maupun pembedahan. Pada pengobatan medikal diberikan obat vasokonstriktor lokal (tets hidung), antihistamin, serta perasat Valsava, bila tidak ada tanda-tanda infeksi di jalan napas atas. Setelah satu-dua minggu, bila gejala-gejala masih menetap, dilakukan miringtomi (insisi pada pars tensa membarn timpani agar terjadi drainase sekret dari telinga tengah ke telinga luar).
Penyakit Jantung Kongenital
Kelainan kongenital pada jantung dan sistem kardiovaskular terjadi pada 7 hingga 10 bagi tiap 100 kelahiran (0.7% ke 1.0%)1. Penyakit jantung kongenital adalah jenis yang paling sering ditemukan didalam penyakit kongenital dimana mencakupi sekitar 30% dari total insiden penyakit kongenital. Dengan penurunan dalam penyakit jantung rematik, penyakit jantung kongenital telah menjadi penyebab utama sakit jantung pada 10% sampai 15% kanak-kanak yang menderita anomaly kongenital pada tulang, genitourinary, atau system gastrointestinal. Sembilan lesi penyakit jantung kongenital merangkumi lebih dari 80% dari penyakit kongenital jantung, dengan lesi kompleks yang jarang (Tabel 3-1).1 Populasi orang dewasa dengan penyakit jantung kongenital, baik sudah di operasi maupun belum, dianggarkan sekitar 1 juta orang di amerika syarikat. Sebagai hasil, adalah jarang untuk pasien dewasa dengan penyakit kongenital jantung untuk mendapatkan operasi noncardiac.3
Ventricle Septal Defect
Stroke
by Mohd Syis Bin Zulkipli
Definisi
Pathofisiologi
a. Pada stadium awal sampai 6 jam pertama, tak tampak kelainan pada CT-Scan. Kadang kadang sampai 3 hari belum tampak gambaran yang jelas. Sesudah 4 hari tampak gambaran lesi hipodens ( warna hitam), batas tidak tegas.
b. Fase lanjut, densitas akan semakin turun, batas juga akan semakin tegas, dan bentuk semakin sesuai dengan area arteri yang tersumbat.
c. Fase akhir, terlihat sebagai daerah hipodens dengan densitas sesuai dengan densitas liquordan berbatas tegas.
a. Terlihat gambaran lesi hiperdens warna putih dengan batas tegas.
b. Pada stadium lanjut akan terlihat edema disekitar perdarahan ( edem perifokal) yang akan menyebabkan pendesakan. Jika terjadi absorbs lengkap, gambarannya akan menjadi hipodens.
Referensi
Ekayuda, Iwan, Sjahriar Rasad, editor. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Jakarta : Divisi Radiodiagnostik, Departmen Radioligi FK UI-RSCM, 2005. Hal : 382,385
Joseph U, MD. Stroke Ischemic. www.emedicine.com
Nassisi, Denise, MD. Stroke Hemorragic. www.emedicine.com